Guru Profesional*

Pengertian:

Untuk mendifinisikan profesi guru dimulai dari dua kata yang digabungkan, pertama profesi kedua guru. Profesi diartikan bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dan sebagainya) tertentu., profesional itu adalah ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Seseorang untuk bisa menjadi ahli itu apa yang harus ia lakukan? Yang jelas  mesti banyak latihan, mesti memiliki skill kemudian memiliki potensi, memiliki kecakapan-kecakapan tertentu.

Profesional bidang pekerjaan yang dilalui menjadi bidang keahlian, jadi ada keahlian tertentu, seperti mengajar itu harus ada keahlian tertentu keahlian dalam mengajar, keahlian dalam mengenal yang diajar, mengetahui psikologi –ilmu bantunya—serta keahlian lainnya, minimal keahlian dalam menulis, menulisnya harus bagus, kalau guru tulisannya bagus, semuanya jadi bagus, tapi kalau tulisan gurunya tidak bagus maka insyaallah tidak bagus juga tulisan siswa-siswinya. Pekerjaan yang dilandasi pendidikan keterampilan kejujuran dan sebagainya itu namanya profesi.

Juga dalam pengertian lain seseorang yang mengerjakan sesuatu sebagai pekerjaan yang dibayar bukan sebagai hobi. Tapi saya pikir, untuk di pesantren pengertian ini tidak tepat, harus dibuang jauh-jauh dari bayangan. Sebab itu identik dengan buruh, mengajar sebagai buruh,  kalau buruh, dalam kamus disebutkan itu adalah orang yang bekerja karena upah, untuk mendapatkan upah, kira-kira kalau guru mengajar untuk mendapatkan upah sambil berpikir sebagai profesi yang kedua, itu sama dengan buruh, kelasnya juga kelas buruh, buruh itu hampir mirip dengan lumba-lumba; mau melakukan sesuatu kalau diberi imbalan, kalau tidak dikasih upah tidak akan mau loncat-loncat, tepuk tangan atau lainnya sebagaimana dalam pertunjukkan lumba-lumba. Jadi kalau guru seperti itu berarti tidak jauh dari lumba-lumba.

Kemudian pengertian profesional juga berarti orang yang memiliki banyak kemahiran dan pengalaman, jadi dia punya kemahiran punya pengalaman, seorang profesional itu dia mahir dan berpengalaman, pertanyaannya kita ini sudah punya pengalaman apa belum? Minimal sudah mengalami menjadi murid, murid itu pekerjaannya menilai guru, jadi kalau ada guru yang datangnya telat terus, jadi murid itu langsung bilang ’Guru telatan” kalau yang rajin datangnya itu teladan kalau yang telat itu telatan, apakah sikap guru itu profesional? Ya tidak. Bukan ahli yang seperti itu memberi contoh kepada muridnya saja tidak bisa, ini profesi.

Dalam kamus guru adalah yang pekerjaannya atau dalam mata pencahariannya atau profesinya mengajar, kata guru sebenarnya itu dari bahasa India yang artinya adalah pemimpin spiritual, kira-kira kalau kiai atau ustad dia memang ahli, dia memimpin tapi dalam hal keagamaan, jadi guru yang mengajarkan agama, makannya dulu di Indonesia ketika masih istilahnya guru itu bagus hasilnya, jadi guru itu memang betul-betul dia memimpin, memberi contoh itulah guru, sekarang kan diubah menjadi tenaga pendidik kalau tenaga pendidik itu sama, tenaga pendidik tenaga pengajar, dari definisi saja ini berarti dari tenaga yang dibayar, tapi masih mending dari sebelumnya saat guru memperkenalkan dirinya itu tidak bagus; kuli kapur, jadi kuli yang suka memegang kapur.

An intellectual or spiritual guide or leader. Intelektual atau pembimbing atau pemimpin keagamaan.  Juga seseorang yang membimbing dan memberi arahan bisa juga berarti mentor. Pengertian lain dapat ditambahkan juga; seseorang yang membacakan dan memahamkan sesuatu bagi siswa-siswinya.  Berarti tugas guru itu memahami untuk dirinya dan memahamkan untuk muridnya. Memahami sesuatu untuk diri sendiri mungkin bisa dengan mudah, tapi kalau memahamkan itu memang perlu cara, dari sini kita ketemu dengan apa itu “Guru Profesional.” Yakni orang yang kerjanya mengajar dan menjadikan mengajar sebagai pekerjaan, yang mengajar bukan dengan tangan kosong tapi dia mempunyai skill punya kemahiran dan mempunyai pengalaman.

Kita harus mengambil dari definisi yang bagus, saya lebih cenderung memakai bahasa guru dari pada bahasa tenaga pendidik, karena kalau tenaga pendidik itu sebenarnya mereduksi nilai sebagai pemimpin agama –aslinya seperti itu, menjadi hanya sebagai buruh atau pekerja. Di Indonesia juga sama ada guru atau ustadz atau syekh atau musyrif, yang belajar namanya “murid” orang yang mempunyai kemauan untuk belajar kalau sekarang diganti sebutannya menjadi “anak didik” lebih susah lagi yang baru istilahnya “pembelajar,” “peserta didik,”  bisa berarti yang mau, ikut serta, dan yang tidak mau ikut serta ya terserah.

Menjadi Guru

  1. Sebelum Mengajar:

Sebetulnya yang terpenting menjadi guru itu apa? Ketika kita mau mengajar, yang sekarang dilakukan itu adalah sebetulnya bukan mengajar tapi aplikasi mengajar, mengajarnya itu kapan? Ya tadi, saya sebelum ke sini kemudian menyusun ini, itu adalah mengajar, karena ketika saya menulis persiapan itu terbayang semua peserta yang hadir, maka saya membuat tahapan, ini mungkin tidak ada di buku-buku itu, saya coba menyusun seperti ini mengajar sebelum mengajar sama dengan mengajar dengan sebenarnya itu yang terpenting, mengajar sebelum mengajar itu karena di situ lebih serius, apa yang dilakukan?

Pertama menguasai bahan, bagaimana? Kita mengajar apa? Tentukan jadwal mengajar apa? Maka kita harus bertanggung jawab atas materi itu, katakanlah mengajar mahfudzot, maka kita bertanggung jawab, bertanggung jawab apanya? Bukan saja hafalnya, bukan saja pahamnya tapi harus tahu juga tulisannya tahu juga bagaimana cara menerangkannya, kalau perlu bumbu bumbunya juga harus tahu. Membayangkan juga nanti kalau ditanya oleh murid, ketika menulis itu membayangkan lebih dari itu sambil menulis persiapan jadi menguasai bahan.

Kedua membuat persiapan. Yang ketiga mengenali karakter siswa itu nanti sambil jalan akan ketemu jadi makannya i’dad itu harus ditulis setiap hari karena itulah mengajar yang sebenarnya saat di malam harinya itu, yang diperiksakannya itu bukan saat waktu mengajarnya. orang yang mau mengajar mesti harus siap-siap bahasa kerennya membuat lesson plan.

Lalu apa yang bisa kita kembangkan? Kembali lagi ke awal tadi, dengan membuat persiapan itu kita mengembangkan hasil, kita mengembangkan kemahiran, dalam teknik pendidikan ada yang namanya strategi belajar mengajar. Kalau dipelajari bisa satu semester, tapi kita sampaikan di sini satu malam saja, yang mudah saja.

Ketiga, mengenali karakter siswa itu penting nanti lama-lama akan tahu, anak ini itu sukanya apa si A ini cara memperlakukannya bagaimana, kan ada anak yang pendiam itu disuruh apa menurut tapi ada anak yang aktif dan bertingkah, wataknya keras, harus ada cara, jangan-jangan dia tidak memerlukan bentakan, tidak memerlukan kekerasan, tapi dia memerlukan sentuhan hati nuraninya, diajak berbicara malah menangis dia, kadang-kadang kalau yang keras itu dia diperlakukan lunak malah ikut meleleh.

Kemudian keempat,  mengetahui cara mengajar atau metode mengajar ini tidak usah jauh-jauh, dari tarbiyah watta’lim saja sudah dapat mengetahui kalau mau membuat i’dad itu tinggal lihat saja dan pahami lagi saja, minimal kita berpegang pada satu metode yang kita yakini sebenarnya saja dulu, nanti yang lain tambah sendiri, akan menambah sendiri nanti, tapi yang kita yakini benarnya saja dulu lakukan dan ikuti serta pedomani.

  1. Praktik Mengajar:

Setelah memahami pentingnya membuat persiapan, baru kita masuk pada taktik mengajar aplikasi mengajar apa yang harus dilakukan? Lain saat menulis persiapan lain kenyataan, waktu menulis persiapan dikiranya semua siswa mendengarkan, patuh, padahal ada yang hanya kerjanya goyang-goyang kursi saja, kemudian ada yang ganggu temannya kalau ada yang mengantuk ada macam-macam, apalagi anak yang tamatan SD, ada SD yang disiplin ada SD yang tidak disiplin, biasanya semakin kampung semakin tidak disiplin, orang lain memakai sepatu dia memakai sandal, ada yang memakai sepatu ketika pulangnya di tengteng, jadi banyak karakter yang ditemui, mungkin orang kota cenderung rapi, tapi orang kampung itu mungkin susah untuk bisa rapi karena apa? Siapa yang mendidiknya?

Pertama, teknik menguasai kelas. Menguasai kelas, menguasai ruangan itu ada caranya, bisa dengan membuat kontrak belajar; masuk ke dalam ruangan ditanya, sudah kenal saya? Belum pak, nama saya A, saya ditugaskan mengajar pelajaran matematika kalau ada yang terlambat memasuki kelas itu ditanya berapa menit, supaya aktif dia berpikir sendiri, anak-anak itu ada saja tingkahnya, ustad mau masuk kelas anaknya keluar, jadi “ngerjain” ustadz, kita sebagai ustadz harus menguasai dan  harus pintar lagi, berapa menit? Lewat dari 5 menit berdiri, kemudian lewat dari 10 menit suruh di luar kemudian ada kesepakatan, memalingkan perhatian walaupun kadang –karena manusia juga– diberi longgar sekali-kali tapi tidak selamanya, yang penting ada kesiapannya untuk menguasai anak-anak kita dulu menjadi murid, sebetulnya kita mempunyai banyak style dari cara mengajar ustadz-ustadz itu, tinggal kamu pilih mana yang paling bagus, tapi yang harus kita lakukan adalah menguasai kelas jadi ketika berbicara itu semua harus ada dalam pegangan kita.

Kedua, hadiah dan ada hukuman, untuk yang berprestasi diberi hadiah, yang indisipliner diberi hukuman. Memberi hukuman kan tidak mesti fisik ada cara-cara lain dan itu efektif seperti menyuruh membaca atau mengajukan pertanyaan tentang materi yang diajarkan juga bisa berfungsi sebagai hukuman. Sementara pujian juga bisa berfungsi sebagai hadiah bagi yang berprestasi. Intinya harus ada perhatian terhadap gerak-gerik siswa dalam kelas, mana yang perlu dihargai dan mana yang perlu diabaikan. Di balik semua aktivitas mengajar ada proses pencarian data seperti ini dan proses pencarian data itu adalah tentang apa materi yang kita ajarkan, itu ada proses membuat persiapan ada proses mengenali karakter dan lain sebagainya, semuanya kita siapkan baik secara tertulis maupun secara tidak tertulis.

Ketiga improvisasi, dalam mengajar harus ada juga respons terhadap suatu kejadian yang di luar dugaan, sebagai guru harus bisa menghadapi hal tersebut dengan bijak. Kadang metode yang kita siapkan menjadi tidak dipakai dan beralih ke metode lain karena menyesuaikan dengan kondisi, dalam hal ini kekayaan metodologi dan sikap tanggapnya seorang guru sangat dibutuhkan.

Situasi kelas tidak kondusif misalkan tentang kebersihan, mau masuk tiba-tiba meja gurunya kotor, otomatis harus bertindak. Pernah suatu saat saya masuk ruangan kelas di suatu sekolah di Surabaya, “ jangan mulai mengajar jika kelas masih kotor” atau “kegiatan belajar mengajar tidak dilaksanakan jika kelas masih dalam keadaan kotor.” Menyikapi hal seperti itu sebagai guru harus tanggap dan bertindak. Ingat tugas guru bukan hanya mengajar, tapi mendidik.

  1. Tujuan Mengajar:

Setelah itu, manusia jika ingin mengajar sebetulnya itu ingin mendapatkan hasil, itu dalam bahasa pendidikan namanya tujuan instruksional, maksudnya hasil yang hendak dicapai dalam suatu pertemuan. Selain tujuan instruksional ada tujuan pendidikan umum itu tujuannya biasanya dirumuskan oleh negara. Kemudian tujuan umum lagi di bawahnya ada tujuan institusi, yaitu tujuan dari lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan. Kemudian ada juga tujuan umum tapi hubungannya dengan bidang studi, seperti Muthalaah itu tujuannya apa? “memperkaya bahasa, penyusunan kata, muthalaah itu yang jelas memahami, memahami wacana itu tujuan bidang studinya, maka ketika kita turunkan yang kita tulis itu tujuan internasional khusus anak dapat memberikan uslub, harus seperti itu, bukan menghafal, kebanyakan itu salah kaprah.

Yang diharapkan mengajar adalah perubahan perilaku dan gerakan jasmaniah (psikomotorik), perubahan pengetahuan, nalar dan berpikir (kognitif), kemudian perubahan sikap dan perasaan serta kemampuan menilai(afektif).

Aspek kognitif itu rentetannya ini, pengetahuan pengalaman penerapan, analisa, evaluasi, pengetahuan itu hubungannya dengan pengalaman tapi harus tahu dan paham, setelah tahu bisa menerapkan, tapi sebelum yang tinggi lagi, tapi kalau hanya tahu itu kan  derajatnya paling rendah, kalau hanya tahu saja itu untuk melaksanakan, tahu, paham, pelaksanaan, penerapan, itu beranalisa, berpikir.

Kemudian psikomotorik afektif penerimaan, itu derajat terendah, kalau hanya menerima saja, di omongin “na’am” menerima saja dan tidak merespon tapi “fahimtum fahimna” jangan melanggar! “iya” makannya kalau yang nakal lebih maju, minimal respon menolak, mungkin dia responsif itu perilakunya kemudian ada penilaian itu dari evaluasi, karena menilai.

Kemudian karakterisasi dari semuanya itu sikap menjadi karakter, itu manusia belajar seperti itu, pertama menerima ketika anak kecil ditanya siapa namanya kemudian bisa menjawab itu, senang dan bersyukur. Psikomotorik peniruan, ini adalah proses pertama juga, yang paling bagus untuk mengajar khot itu psikomotorik, anaknya tidak disuruh nulis, ya tidak bisa, pelajaran khot anaknya tidak disuruh menulis tidak bisa mengajar khot, dan sebetulnya khot ini kan peniruan.

Ilustrasinya begini,  kognitif: kebersihan sebagian dari pada iman, mengetahui bahwa bersih itu baik, harus dan bermanfaat, psikomotorik; tergerak untuk bersih-bersih, membersihkan diri dan lingkungan, afektif; tidak suka kekotoran, menghargai kebersihan, pejuang kebersihan.

Tugas & Peran:

Setelah semuanya itu yang harus disadarii juga adalah tugas dan peran guru. Kalau tugas itu artinya yang wajib dikerjakan atau yang ditentukan untuk dilakukan; pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang; pekerjaan yang dibebankan kepada seseorang. Sekarang tugas utamanya guru apa? Tentu mendidik dan mengajar. Adapun peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat, jadi apa yang mesti dilakukan seseorang ketika dia berkedudukan sebagai guru, itulah peran namanya.

_________

  • disarikan dari materi penataran guru TMI al-Ikhlash disampaikan Pimpinan Pondok.