Menanamkan Adab dan Jiwa Kepemimpinan Santri: Cara Pondok Modern Al-Ikhlash Edukasi Akhlak Santri Lewat Pelatihan Khutbah dan Imamah

  • - Reading Time: 4 mins
  • - 12 x dibaca
Photo by Al-Ikhlash Media

Kuningan, 16 September 2026 – Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash kembali mempertegas komitmennya dalam membangun karakter dan pendidikan akhlak para santrinya melalui penyelenggaraan kegiatan “Taujihat Imamah dan Khitobah” bagi siswa dan siswi kelas 6 Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat al-Islamiyyah (TMI). Pendidikan khutbah dan imamah ini diposisikan bukan sekadar sebagai pelatihan keterampilan retorika di atas mimbar, melainkan sebagai media penanaman nilai-nilai akhlakul karimah dan adab kepemimpinan Islam. Melalui taksonomi komunikasi sunnah Rasulullah SAW, Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash berikhtiar membentuk kepribadian santri agar mampu menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang ringkas, jelas, santun, serta menggerakkan kebaikan.

Dalam pemaparannya, KH. M. Tata Taufik menekankan prinsip utama dalam berkhutbah, beliau mengutip hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa panjangnya sholat dan singkatnya khutbah seseorang merupakan pertanda dari kedalaman pemahaman fiqihnya (ma’innatun min fiqhih). Menyampaikan materi yang ringkas bukan berarti tergesa-gesa dalam bertutur kata, melainkan kemampuan seorang khatib dalam memilih serta menyaring pesan yang paling mendesak dan relevan bagi jamaah. Oleh karena itu, para santri diajarkan untuk fokus pada penyampaian substansi ajaran Islam tanpa perlu berbelit-belit.

Selain penyampaian kata-kata, kehadiran fisik dan keterlibatan emosional khatib di atas mimbar juga menjadi aspek krusial yang dibahas. Meneladani Rasulullah SAW saat berkhutbah, seorang khatib hendaknya melibatkan seluruh jiwanya, nada suara perlu meninggi saat memberikan peringatan penting, dan ekspresi wajah harus menampakkan perhatian penuh, bukan sekadar membaca naskah. Hal ini dilakukan bukan atas dasar rasa marah atau sekadar berteriak keras, melainkan untuk menghadirkan rasa urgensi yang selaras dengan bobot pesan yang disampaikan. Kehadiran diri secara utuh ini akan membangun koneksi batin antara khatib dan para jamaah yang mendengarkan.

Kredibilitas seorang khatib di hadapan jamaah tercermin dari empat bentuk sunnah yang saling melengkapi. Bentuk tersebut meliputi dimensi Qawliyyah (apa yang diucapkan oleh lisan), Fi’liyyah (apa yang diteladankan dalam tindakan nyata), Takririyyah (pengulangan), serta Sifatiyyah (karakter dan sifat personal yang membuat pesan tepercaya). Kompetensi verbal seorang khatib lahir dari disiplin lisan yang kuat, yaitu Al-Bayan (kejernihan makna yang mudah dipahami), Jawami’ al-Kalim (padat kata namun memiliki cakupan makna yang luas), serta At-Tikrar (pengulangan kalimat inti secara tegas apabila diperlukan). Kekuatan pesan retorika dakwah tidak terletak pada kerasnya suara, melainkan pada kejelasan dan ketepatan penekanan maknanya.

Selurus siswa dan siwi kelas 6 TMI juga dibekali pemahaman mendalam mengenai elemen paralinguistik dan komunikasi nonverbal ketika berdiri di hadapan publik. Pengaturan nada bicara harus disesuaikan dengan bobot pesan, penggunaan jeda sangat penting agar makna sempat meresap ke dalam pemikiran jamaah, serta tempo bicaranya harus terukur dan jelas tanpa terburu-buru. Secara nonverbal, tubuh khatib turut menyampaikan pesan dengan cara menghadap jamaah secara utuh, menggunakan isyarat tangan seperlunya untuk mengonkretkan makna, serta menjaga tatapan mata yang ramah tanpa kesan menghakimi. Pendekatan komunikasi ini melatih para santri agar tampil dengan rasa percaya diri namun tetap santun dan tidak dibuat-buat.

Hal penting lainnya yang disorot dalam penataran ini adalah keharusan menjaga prinsip Mura’at Ahwal al-Mukhatabin, yaitu kemampuan menyesuaikan bahasa dakwah dengan kondisi jamaah yang dihadapi. Ketika berhadapan dengan jamaah umum, khatib harus segera memberikan arti dan contoh konkret setelah menyebutkan suatu istilah agama. Sementara untuk audiens anak muda, nilai-nilai keislaman perlu dihubungkan secara fleksibel dengan pilihan hidup nyata mereka, serta mengedepankan kasih sayang ketimbang teguran saat berada di situasi krisis. Khatib diingatkan untuk tidak menggunakan mimbar sebagai tempat melampiaskan kekesalan, tidak membuka aib, serta tidak menyebutkan nama individu yang dikritik, melainkan fokus pada solusi, perbaikan perilaku, dan mendoakan kebaikan bagi sesama.

Menjelang akhir sesi, peserta mendapatkan penguatan tentang pentingnya menjaga amanah informasi dan prinsip kemudahan dalam berdakwah. Seorang khatib dilarang keras menyampaikan berita atau kabar yang belum pasti kebenarannya di atas mimbar tanpa melalui verifikasi sumber, konteks, dan dampaknya bagi masyarakat. Berdasarkan pesan Rasulullah SAW, dakwah harus bersifat memudahkan (Yassiru wa la tu’assiru) dan membawa kabar gembira (Bassyiru wa la tunaffiru), dengan bersikap lembut pada cara penyampaian namun tetap teguh pada prinsip kebenaran. Penginjakan nilai amanah ini membentengi para calon lulusan agar menjadi pendakwah yang jujur, dapat dipercaya, dan senantiasa membawa kemaslahatan.

Sebagai penutup dari seluruh rangkaian pengarahan ini, seluruh peserta diajak untuk memanjatkan doa bersama guna memohon keberkahan dan kelancaran dalam menuntut ilmu. Melalui doa penutup tersebut, terbersit harapan besar agar seluruh siswa dan siswi kelas 6 TMI dapat bersungguh-sungguh dalam berlatih serta mengaplikasikan seluruh ilmu yang telah didapatkan. Pembekalan ini dirancang agar mereka kelak mampu menjalankan peran sebagai imam sholat dan khatib yang baik, berintegritas, serta berwawasan luas. Kemampuan ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi para santri ketika terjun dan mengabdi di tengah-tengah kehidupan masyarakat kelak setelah menyelesaikan pendidikannya. Harapannya, ilmu yang diserap dari kegiatan ini dapat terus terpelihara, menjadi amalan yang bermanfaat, serta memberikan kontribusi nyata bagi syiar Islam dan kebaikan ummat di masa depan.

Baca Juga: Ngawangun Jati Diri: Semangat Santri Pondok Modern Al-Ikhlash Ikuti Rangkaian LT-II Pramuka Ciawigebang 2026

Oleh: Redaksi

Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas.