Pimpinan dan Ustadz Al Ikhlash Presentasikan Riset Pesantren di ICOSS 2026 Bali

DENPASAR – Pimpinan Pondok Modern Al Ikhlash, Dr. H. M. Tata Taufik, M.Ag., bersama Ustadz Maulana Rizki, M.Pd., berpartisipasi dalam The 13th International Conference on Social Sciences (ICOSS 2026) yang berlangsung di Denpasar, Bali, pada 7-8 September 2026. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari ikhtiar Pondok Modern Al Ikhlash dan Institut Agama Islam Al Ikhlash untuk membawa pengalaman pendidikan pesantren ke ruang percakapan akademik internasional.
Dalam forum tersebut, keduanya mempresentasikan makalah berjudul Bridging the Resilience Gap: A Longitudinal Integration of Residential Education Output and Alumni Outcomes (2018-2025). Makalah ini membaca pendidikan berasrama bukan semata sebagai sistem tinggal bersama, melainkan sebagai lingkungan pembentukan yang bekerja sepanjang hari: membangun watak, daya tahan belajar, tanggung jawab sosial, dan kemampuan beradaptasi setelah peserta didik kembali ke tengah masyarakat.
Kajian ini menghubungkan data keluaran pendidikan dengan penelusuran alumni. Data tujuh angkatan alumni, 2018-2025, memperlihatkan bahwa penguatan karakter dan etika tetap menjadi kekuatan penting pendidikan pesantren. Sementara itu, pengamatan terhadap 101 alumni menunjukkan relevansi kompetensi nonkognitif – seperti integritas, pertimbangan etis, kemampuan beradaptasi, dan kohesi sosial – bagi kehidupan akademik, profesional, dan kemasyarakatan mereka.
Salah satu gagasan yang ditawarkan ialah learning endurance, yaitu daya tahan untuk terus belajar dan bertumbuh ketika seseorang menghadapi perubahan, keterbatasan, maupun tantangan baru. Dalam pengalaman Al Ikhlash, daya tahan itu tidak lahir dari ruang kelas saja. Ia tumbuh dari kehidupan bersama, kedekatan pembimbing dengan santri, pembiasaan tanggung jawab, serta kultur saling menjaga yang menjadi karakter pendidikan pesantren.
Presentasi ini juga menempatkan pesantren sebagai sistem pendidikan yang dapat berbicara dengan bahasa riset kontemporer tanpa kehilangan jati dirinya. Tradisi keilmuan, akhlak, disiplin hidup, dan relasi kekeluargaan di pesantren dapat dibaca sebagai modal pendidikan yang relevan bagi perbincangan global mengenai pendidikan holistik, pengembangan karakter, dan ketahanan peserta didik.
Bagi Pondok Modern Al Ikhlash, partisipasi pada ICOSS 2026 bukan sekadar agenda konferensi. Kegiatan ini memperkuat keyakinan bahwa pengalaman pendidikan pesantren perlu terus didokumentasikan, diteliti, dan disampaikan kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi objek pembicaraan, tetapi turut memberi sumbangan gagasan bagi arah pendidikan masa depan.









